Senin, 21 September 2015


aku lupa jalan pulang,,
setapak yang kulewati tiba tiba menghilang
hanya tinggal jejak remang remang

pudar
kabur
kupandangi ingatanku

henyak,telah rata dengan pasrah....

Senin, 25 Mei 2015

puisi

Bibir Memerah
sulur lidah dijinjing
rangkap mulut berdawai
jilat liur beradu padan
tonggak merangsak panas

siap hati
perasa tak enak
mulut tergigit gigi sendiri
kaki tersandung batu bringas
banyak pertanyaan
si longlong menjemput mata
atau malah bertindak dibalik telinga
alur belum terbaca
simpati tarik nama
sombong mendahaga
kurus badan
besar bibir memerah..
malang, 6 april 2015 19.55

puisi


perjalanan
pagiku menjelang
lantunan pengingat syukur berkumandang
terbangun dari hangatnya mimpi bersulang
menyapu senyap mengelap mata
berlari kearah belakang

ketetapan telah tergelar diatas motor tumpangan
menjejaki suasana baru kehidupan
melenggang lidah dalam diskusi 
menyapa hangat para petinggi



cemoohan
sindiran
nasehat
telah menjaga setiap ucapan
memfokuskan pendengaran


pasuruan, 22 mei 2015

Senin, 02 Maret 2015

puisi

bisiklah para konglongmerat

angin mamiri beranjak pergi dari keluarganya
ditanah gesang alunan solo berkumandang
toleransi tak memelihara lagi kebudayaan
garis nafas pribumi tersenggal darah

rock metal datang dengan jingkrak jingkrak
pencakar langit memudar di halaman
penghuni jadi tamu,pendatang jadi mantu
kurun waktu beranjak pergi dari bumimu

bisiklah para konglongmerat itu,
jatuhkan talak pada bumiku
agar tak ada lagi piutang baru
mengiris kesenjangan saudaraku

tutuplah tsunami dari kedalamanya
biarkan lautku pasang surut dengan semestinya
biarkan nelayan mengais rejekinya
biarkan bumiku hangus atas lakuan penghuninya

malang,3 maret 2015

puisi

membeku

tudung raksasa menutupi khatulistiwa
nias dan rote nampak berkaos kaki
batavia jumawa tegak berdiri
menggigil menahan angin dingin

kutub utara selatan merangsak masuk
memalu keberadaan jiwa meringik takut
menyeret jarak kaya dan miskin
semakin jauh dari sejahtera


surut air laut di padang panjang
surut juga penghasilan perkotaan
termakan siluman kedinginan
termakan janji janji pembangunan


jelas dingin menggaruk tubuhmu
sampai tak rasa lagi gatalmu
tak rasa lagi kelakar keringatmu
biar lari tetap kan membeku


malang,3 maret 2015
‪

Rabu, 14 Januari 2015

puisi

Liur menampar malam
terbalut mimpi dimalam hari
mendekap erat sunyi
merangkainya dalam keramaian
celetuk liur menampar malam

nyenyak makna tak dalam
gundah sungguh menyempurnakan
langit kian menghitam
ditengah tengah dunia impian kumelampiaskan

tanganku terbakar
kakiku beku tersekat bambu
alam merajahiku
hingga fajar menyapa ubunku

namun apa perkataan terlontar
tidak terdengar dari kedekatan
namun kejauhan menggaung menjelaskan
cerita cerita maya terhapuskan

menyangkal kebenaran itu salah besar
merangkul mata sulitnya tanpa badan
menyejukkan kenangan yang kelam
biar liur lagi menampar malam

puisi

Manusia Perantauan

terhuyung badan diperantauan
melihat tangis dan ratap pribuminya
perlahan menangkis kepenatan
menghentakkan kaki ditanah maritim raya

menghunuskan semangat
pada jantung jantung kesusahan
pada lubang lubang kemiskinan
tanpa sempat membalut luka sendiri

ujung diujung ibukota
tempat para bedebah terasingkan
hanya menjulurkan ancaman
lantas pergi mengingatkan sesama

dimanakah letak keberakhiran semua
sandiwara kosong penuh tipu daya
dari negeri asing tak kenal rakyatnya
hanya mengucap lalu meratap

asing asing asing
sungguh keberadaannya terhimpit
terjebak tangan kotor atasanya
hanya melihat tak berbuat 

lantas kenapa mereka diam
seakan pasrah menggelarkan tikar
mempersilahkan keasingan merajai
membuka kehancuran dirinya sendiri

gerakan memang ada
tapi sebatas rupiah mereka bubar
tak kalah dengan pengemis lampu merah
hanya ini terlihat sopan

mungkin belum saatnya tanah ini merdeka
mungkin juga tak lumrah negeri ini digdaya
jika ada kebaikan sedikit mengalir dari hati mereka
pantaslah sayap sayap Tuhan memberi kemakmuran

namun jika para bedebah itu melahirkan keturunan
sulit kepastian ketentraman
kepastian akan kemakmuran
kepastian badan hilang dari perantauan

puisi

St Yves
St Yves teruntuk diriku
cerita sandang setiaku
mengarungi waktu membungkusku
menghindarkanku dari malu
ucap takdir
kadang wangi
kadang juga bau
namun tetap membungkusku
warna putih yang suci
identik Negeri para Nabi
terlihat rapi menutupi
panaspun tak mau menghampiri
kini kusam
tengah berjalan diatasnya
merontokkan kesuciannya
membuatnya menangis
tapi tunggu
aku akan selalu bersamamu
melintasi waktu
kau tetap sandang terbaikku.

Senin, 12 Januari 2015

poetry

two sides
two parts united
loggerheads over body
trample esteem
also straighten this way
they struggled for the right
makes me depressed at night
keep me busy during the day
confusing souls who want to choose

No one offered kindness
there is also invited to the ugliness
each side wants to be heard
each side wants to be noticed

where faith
where lust
which certainly
where doubt