Senin, 02 Maret 2015

puisi

bisiklah para konglongmerat

angin mamiri beranjak pergi dari keluarganya
ditanah gesang alunan solo berkumandang
toleransi tak memelihara lagi kebudayaan
garis nafas pribumi tersenggal darah

rock metal datang dengan jingkrak jingkrak
pencakar langit memudar di halaman
penghuni jadi tamu,pendatang jadi mantu
kurun waktu beranjak pergi dari bumimu

bisiklah para konglongmerat itu,
jatuhkan talak pada bumiku
agar tak ada lagi piutang baru
mengiris kesenjangan saudaraku

tutuplah tsunami dari kedalamanya
biarkan lautku pasang surut dengan semestinya
biarkan nelayan mengais rejekinya
biarkan bumiku hangus atas lakuan penghuninya

malang,3 maret 2015

puisi

membeku

tudung raksasa menutupi khatulistiwa
nias dan rote nampak berkaos kaki
batavia jumawa tegak berdiri
menggigil menahan angin dingin

kutub utara selatan merangsak masuk
memalu keberadaan jiwa meringik takut
menyeret jarak kaya dan miskin
semakin jauh dari sejahtera


surut air laut di padang panjang
surut juga penghasilan perkotaan
termakan siluman kedinginan
termakan janji janji pembangunan


jelas dingin menggaruk tubuhmu
sampai tak rasa lagi gatalmu
tak rasa lagi kelakar keringatmu
biar lari tetap kan membeku


malang,3 maret 2015
‪