Rabu, 14 Januari 2015

puisi

Liur menampar malam
terbalut mimpi dimalam hari
mendekap erat sunyi
merangkainya dalam keramaian
celetuk liur menampar malam

nyenyak makna tak dalam
gundah sungguh menyempurnakan
langit kian menghitam
ditengah tengah dunia impian kumelampiaskan

tanganku terbakar
kakiku beku tersekat bambu
alam merajahiku
hingga fajar menyapa ubunku

namun apa perkataan terlontar
tidak terdengar dari kedekatan
namun kejauhan menggaung menjelaskan
cerita cerita maya terhapuskan

menyangkal kebenaran itu salah besar
merangkul mata sulitnya tanpa badan
menyejukkan kenangan yang kelam
biar liur lagi menampar malam

puisi

Manusia Perantauan

terhuyung badan diperantauan
melihat tangis dan ratap pribuminya
perlahan menangkis kepenatan
menghentakkan kaki ditanah maritim raya

menghunuskan semangat
pada jantung jantung kesusahan
pada lubang lubang kemiskinan
tanpa sempat membalut luka sendiri

ujung diujung ibukota
tempat para bedebah terasingkan
hanya menjulurkan ancaman
lantas pergi mengingatkan sesama

dimanakah letak keberakhiran semua
sandiwara kosong penuh tipu daya
dari negeri asing tak kenal rakyatnya
hanya mengucap lalu meratap

asing asing asing
sungguh keberadaannya terhimpit
terjebak tangan kotor atasanya
hanya melihat tak berbuat 

lantas kenapa mereka diam
seakan pasrah menggelarkan tikar
mempersilahkan keasingan merajai
membuka kehancuran dirinya sendiri

gerakan memang ada
tapi sebatas rupiah mereka bubar
tak kalah dengan pengemis lampu merah
hanya ini terlihat sopan

mungkin belum saatnya tanah ini merdeka
mungkin juga tak lumrah negeri ini digdaya
jika ada kebaikan sedikit mengalir dari hati mereka
pantaslah sayap sayap Tuhan memberi kemakmuran

namun jika para bedebah itu melahirkan keturunan
sulit kepastian ketentraman
kepastian akan kemakmuran
kepastian badan hilang dari perantauan

puisi

St Yves
St Yves teruntuk diriku
cerita sandang setiaku
mengarungi waktu membungkusku
menghindarkanku dari malu
ucap takdir
kadang wangi
kadang juga bau
namun tetap membungkusku
warna putih yang suci
identik Negeri para Nabi
terlihat rapi menutupi
panaspun tak mau menghampiri
kini kusam
tengah berjalan diatasnya
merontokkan kesuciannya
membuatnya menangis
tapi tunggu
aku akan selalu bersamamu
melintasi waktu
kau tetap sandang terbaikku.

Senin, 12 Januari 2015

poetry

two sides
two parts united
loggerheads over body
trample esteem
also straighten this way
they struggled for the right
makes me depressed at night
keep me busy during the day
confusing souls who want to choose

No one offered kindness
there is also invited to the ugliness
each side wants to be heard
each side wants to be noticed

where faith
where lust
which certainly
where doubt