Minggu, 30 November 2014

POETRY

TRAVEL

With folded arms and hid my secret move
Accompanied by red lanterns sad without ulcer
Down the hall filled up the steep alley
Wiping some of the tears that greet

When myself getting tired of wasting energy
When the tip is still hanging in the darkness
I scraped a little food the rest of the past
Which I think is useful for sharpening penetrate increasingly thicken himself

Continue to whisper the spirit of the front
Noticeably louder when the lantern stopped blazing
Appears to have run its feet
Climbed the steep road without limping

This is the western horizon rays
Looks up with dimly lit
Digesting whisper strongly worded earlier
Bring up the fresh scent of the world outside the alienated

PUISI

PERJALANAN

Dengan dekap dan sembunyi sembunyi ku melangkah
Diiringi lentera merah yang miris tanpa barah
Menyusuri lorong lorong terjal penuh asa
Menyeka sebagian dari tangis yang menyapa
Saat diri mulai lelah menghamburkan tenaga
Saat ujung masih menggantung dikegelapan
Ku mengorek sedikit bahan makanan sisa masa lalu
Yang menurutku berguna untuk menembus asah yang semakin menebalkan dirinya
Lanjut dengan bisikan semangat dari depan
Terasa makin keras ketika lentera berhenti berkobar
Nampak kaki telah berjalan dengan sendirinya
Menapaki jalan terjal tanpa tertatih
Inilah sinar ufuk barat
Tampak muncul dengan remang remang
Mencerna bisikan yang bernada keras tadi
Memunculkan aroma segar dunia luar yang terasingkan

Rabu, 26 November 2014

puisi

Mencoba Bertanya

melihat setapak yang mulai dipenuhi kaki berjalan
melihat jalan yang ramai akan roda roda kehidupan
punggung mulai melayang ketika lelah menghampiri
terasa sakit namun tetap berdiri menyembunyikan

terisak kata yang terwakilkan gerak
tertawa seperti gunung yang menghembuskan api
adakah rencana sebaik kodrat yang sudah ditetapkan
adakah perintah dengan simbol keburukan diri

mulai menghargai waktu
mulai mencibir malu akibat penat yang berulang
tak satupun memori menunjukkan kebaikan
tak ada kata hati yang menimbulkan pilihan

mereka yang bergumam tentang dunia
mereka yang terhina namun tampak biasa saja
adakah simponi yang menyadarkan
adakah titik keterpurukan yang mengembalikan

mari bertanya pada mata kalian
mari bertanya pada sisi lain dari diri kalian
mari mencari sosok sebenarnya
mari mencari kebisingan yang kerap mengganggu telinga kalian

english poetry

 TRY ASKING
see the path that gets filled to walk
will see a crowded street wheel of life
began to drift back when tired approached
hurt but still standing hide

sobbed words represented motion
laugh like a mountain that breathes fire
is there a plan as well as the nature of the defined
is there a command to the evil symbol of self

began to appreciate the time
began to pout embarrassed recurrent fatigue
none of memory show kindness
no conscience which raises choice

they were muttering about the world
they are insulted but looks normal
is there a symphony that sensitize
is there any point slump returns

let's ask your eyes
let's ask the other side of yourself
let's look for the actual figure
let's look for the noise that often interfere with your ears

Selasa, 18 November 2014

puisi

                         Jingga Peradaban
Jingga telah memecar menjadi beberapa bagian..
Mulai menyusuri petak-petak kegelapan..

Terbang berkelana meyinari daerah yang kurang cahaya..
Dengan daya yang cukup besar akibat penggabungan warna..
Dari merah tua yang penuh pengalaman..
jingga kecil yang meratap mencoba menemukan jingga-jingga yang lain..
Menghidupkan jingga Yang mati atas kemalasan..
Membakar pedang penjilat memanaskan pena-pena kehidupan..
ingat para jingga kita akan bertemu kembali dalam perantara angin..
Angin yang berhembus dikala sore yang gumilang..
Dan diantara kita hadir
pelaku-pelaku kata..
sinarnya lebih terang dari jingga-jingga kita,dikala matahari terbenam..

by : ferry Yuli R

puisi

TEKAD
Jalan yg terjal yg aku lalui saat ini 
tdk mengoyak tekad yg mantap untuk berdiri 
pada satu titik yang menjulang dalam satu mimpi. .

tekadmu sekecil benih yang ditanam petani
sekecil itu dia mencoba tumbuh dengan semangat tanpa ragu
menghisap sari sari tanah yang jernih
mencernah dari kedalaman bumi

terus tumbuh dan tumbuh menjulang hingga tinggi
menghempaskan lapisan bumi yang terjal dan berduri
kini dia berada pada separuh jalan
dan separuh ini memberi pilihan apakah puncak yang akan ditapaki 
atau mati dalam kubangan liat yang keji

Tekad ini mudah sekali terhempas ketika tersapu sentuhan angin . .
Tetapi tekad ini pulalah yang terus bangkit dari rasa sakit . . .
Tekad yang mencari topangan untuk tetap kuat 
dalam menapaki kehidupan yang berliku ini

kalau begitu pasanglah iya dalam bingkai takdirmu
eratkan dia dengan niat agar angin tak menggodanya lagi
lumuri dia dengan kesetiaan agar senantiasa bermanja kepadamu
dan bawalah dia hingga akhir masamu berada

Iya. . .
akan ku mantapkan lagi demi tercurahkanya mimpi mimpi besar yang harus aku gapai, 
dengan mantap diri dan senyum kepastian dalam kelikuan yang aku jalani saat ini

lika liku hidup memang gersang
serasa hampa apabila tak ada usaha
serasa percuma bila tak ada semangat
serasa kacau bila tak terseleseikan

Kelikuan ini yg akan menjadikan aku bangkit . . .
Dan tidak akan kubiarkan ini menjdi pghalang dalam pencapain yg belum aku temukan . .

bagus
semangatmu membara bak tungku api diperapian
menggelarkan karpet untuk terus berjalan menapaki masa depan
merangkai mimpi mimpi yang telah kau rasakan dalam kesemuan
 
bagus
kuberharap harimu kan ceria
bersama senyum mesra sang mentari
dan dekapan hangat sang rembulan dalam kesunyian malam..
hingga kau saksikan sendiri waktu yang terus menggandengmu dalam penantian

Sungguh . . .
Aku mengakui kebaikan semesta . . .
Yang selalu hadir dan mendukung ku dalam keterpurukan yang pernah terasa. .
Begitu yakin niat ini untuk terus melangkah 
menatap titik cahaya di depan sana, 
yang menunggu untuk aku bisa menemukanya

didepan adalah segala dari para segala yang kau dambakan
titik dimana segala usaha dipertaruhkan
dan pemikiran harus selalu terfokuskan
mungkin hari dimana kau menemukannya adalah hari yang sangat membahagiakan dan mempesona
mungkin sedikit mirip dengan surga yang banyak orang dambakan

Benar. .
Disanalah puncak kebahagiaan . .
Dimana tidak hanya aku seorang yang kan tersenyum menikmati surga dunia . .
Tapi mereka yang selalu ada dan berpihak pada manusia yang sedang berjuang ini , mereka akan lebih bahagia . . .

by : Ferry yuli R and Alicia Maya P

Senin, 29 September 2014

PUISI

Muntahan Legenda
sarjana muda
iya,tujuan utama
melenggak-lenggok berburu buku
hem,hal biasa

apa? kenapa dengan sastra?
hah,keindahan kata-kata
masak iya,bukan lukisan yah?
kuas,tinta,buku gambar,masak kata?

kembalilah kejalan yang benar
apa!!! anak sastra 
bukan-bukan
aku anak olahraga

bukan anak kata
kau paksa aku
tidak idak
tidak bisa

ini jalanku,rayapanku,jungkir balikku
bukan kata
tapi koprol berirama
sudahlah

jangan menggodaku
mencekokiku dengan bait ilustrasi
sudahlah biar aku koprol sampai mati
biar menyatu dengan tanah tanpa dikubur lagi

tinggalkan aku
abaikan aku
fitnah aku
aku bukan anak kata

aku anak lapangan
senantiasa minum keringat
senatiasa menghitamkan diri
senantiasa memerahkan mata
senantiasa mengotori kata

yasudalah kalau tak mau pergi
biar aku yang kembali
mungkin dua tahun lagi
bahkan bisa lebih

jadi lapangan dululah
tak apa asal tak jadi sarjana tua
yang kerjaanya ngomporin dosen 
sama-sama tua juga

sudahla jangan mengoceh lagi
iya,iya aku kabulkan permintaanmu
tapi dengan syarat
suruh si legenda itu muntahkan kata-katanya

biar aku yang jadi muntahanya
tak apalah jijik
tapi sementara
biar aku tahu deritanya

katanya harus berkata
yah itulah kata
memang tak jelas maknanya
tapi muntahanya sungguh jelas aromanya